Adakah Rahmat Allah dalam Dunia Bisnis?

thumbnail
Adakah Rahmat Allah dalam Dunia Bisnis?Sejenak mari kita bertafakur atas apa yang ada di dalam hidup dan kehidupan ini. 

Adakah Allah swt mencurahkan rahmat-Nya kepada segenap umat manusia dalam menjalankan hidup dan kehidupan di dunia yang fana ini? 

Menjawab pertanyaan ini adalah menilai akan eksistensi Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Maka, bagi orang-orang beriman, dapatlah dipastikan jawabannya,

yakni bahwa Allah swt pasti mencurakan rahmat-Nya untuk kehidupan segenap umat manusia (rahmatan lil 'alamin). 

Sebagai Tuhan, Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kaya takkan membiarkan kepada segenap makhluk yang diciptakannya selain Dia (Allah) telah menyediakan apa yang menjadi kebutuhan makhluk-Nya, termasuk umat manusia.

Adakah sesudah itu masih juga disangsikan akan kedudukan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu? Tergantung kepada umat manusia itu sendiri. Jika dia telah benar-benar beriman kepada Allah, maka pastilah dia termasuk orang yang tidak meragukan akan keberadan Allah dalam kedudukan sebagai apa pun yang Dia (Allah) kehendaki.

Alhasil, keimanan seorang pebisnis sangat memegang peran bagi keberhasilan di dalam pergaulannya di dunia bisnis. Jika rasa keberimanan itu telah melepas dalam kehidupan bisnisnya, yang ada hanyalah hawa nafsunya yang secara tidak disadari telah masuk dalam perangkap setan. Naudzu billahi min dzalik.

Yang seharusnya segera disadari bagi pebisnis Muslim, dia tidak seharusnya menjauhi keimanannya yang telah tertanam jauh sebelum terjun dalam dunia bisnis. Rahmat Allah yang telah tercurah pada dirinya seharusnya dipertahankan dan ditingkatkan hingga menuju puncak keridaan Allah (takwa sebenar-benar bertakwa).

Adakah yang dapat dipahami atas rahmat Allah pada diri seorang pebisnis Muslim? 

Janganlah dipungkiri bahwa keberadaan umat manusia tidak dapat berlepas dari kekuasaan Allah swt sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Mustahil manusia dapat berbuat jika Allah tidak berkehendak berbuat pada dirinya. Apa pun yang telah diperbuat oleh umat manusia sesungguhnya karena Allah-lah yang menghendakinya. Tetapi, kebanyakan manusia tidak menyadarinya.

Sisi gelap umat manusia, siapa pun, atas kekuasaan Allah merupakan penyebab terjadinya ketidakpandaiannya dalam bersyukur kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Mengetahui. Perbuatan-perbuatan Allah tidak terbesit dalam hatinya, selain yang ada bahwa kecerdasan otaknya menganggap dirinya dapat berbuat sesuatu sebagaimana yang diinginkannya.

Pandangan yang keliru itu ternyata mengeliminasi atas apa pun yang telah diperbuat oleh Allah sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa lagi Maha Berkehendak. Dan, inilah yang menjadi persoalan terbesar bagi umat manusia, khususnya orang-orang yang telah mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya saw.

Menguji diri atas keberadaannya hidup di dunia yang fana ini terbantahkan. Maka, dapatlah dipastikan bahwa tak ada seorang pun yang sangat menginginkan dirinya teruji oleh Allah sebagai orang-orang yang telah beriman kepada-Nya. Perjalanan hidupnya seolah telah ditetapkan akan keberadaan dirinya di dunia tanpa perlu Allah ikut serta di dalamnya. Ternyata, mereka lupa bahwa Allah-lah yang telah menguji mereka atas keimanannya sendiri.

Padahal, sesunguhnya Allah telah menganugerahkan pada diri orang-orang beriman suatu keadaan hidup yang dapat membahagiakan dirinya di dunia dan di akhirat.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS. Al-Qashash: 77).

Dari ayat di atas, dapatlah dipahami bahwa sesungguhnya Allah:

  1. Telah menganugerahkan suatu kondisi hidup yang membahagiakan (untuk akhirat);
  2. Telah menyediakan bahagian kenikmatan hidup di dunia;
  3. Telah disertakan dalam jiwa keadaan untuk dapat berbuat baik kepada orang lain;
  4. Telah diberikan kemampuan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi.
Persoalan yang muncul kemudian adalah ternyata kebanyakan umat manusia, khususnya bagi orang-orang beriman itu sendiri, tidak mengindahkan akan kemahabaikan Allah pada dirinya. Disertakan adanya hawa nafsu tidaklah berarti dapat mengabaikan akan kemahabaikan Allah selain seharusnya disambut dengan perjuangan yang sungguh-sungguh agar dapat diraih dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, jauh sebelum hidup di Hari Kemudian. ***


Rahasia Sukses di Dunia Bisnis

thumbnail
Rahasia Sukses di Dunia Bisnis
Ini tentu saja sangat didambakan oleh para pebisnis: "Sukses." Agak sulit orang (pebisnis) untuk menolak kenyataan tersebut. Anda tidak tertarik? Pasti Anda bukan pebisnis. Business man sangat berharap agar segala urusannya diberikan jalan kemudahan.

Ada tidaknya manusia pebisnis di dunia online yang sangat perhatian terhadap kualitas dirinya sangat beragam.

Bisnis yang sukses bukan disebabkan oleh diri sendiri semata-mata, melainkan terjadinya keterlibatan banyak kalangan. Akan tetapi, keterlibatan banyak pihak sesungguhnya hanya berada di luar lingkaran kualitas pribadi pebisnis. Sangat menentukan, tetapi tidak lebih besar pengaruhnya kecuali kualitas kondisi jiwa pebisnis itu sendiri.

Rahasia sukses seorang pebisnis ditentukan, pertama-tama, oleh kualitas kepribadian, jauh sebelum ada pengaruh dari dunia di luar dirinya. Artinya, sukses di dunia bisnis sangat dipengaruhi oleh pelaku bisnis online itu sendiri. 1. Bisnis online sukses karena kualitas pribadi pebisnis; 2. Kualitas diri pelaku bisnis disebabkan bagaimana jiwa (hati) ruhaniahnya; 3. Pebisnis online sukses tidak hanya oleh dirinya, melainkan adanya keterlibatan dari orang lain di luar dirinya; 4. Anda sukses karena Allah berkehendak Anda Sukses.

Keempat pokok pembicaraan itu, iinsya Allah dengan pertolongan Allah, akan dibahas di sini.

1. Bisnis Online Sukses karena Kualitas Pribadi Pebisnis

Diri seorang pebisnis adalah "guru" bagi berhasil tidaknya bisnis online yang digelutinya. Sebagai "guru," maka bisnis akan berhasil jika guru itu dapat membimbing ke arah keberhasilan tersebut. Dari sini, dapatlah diterangkan bahwa keberhasilan sebuah bisnis berdasar kepada kepribadian "guru" itu sendiri.

Buah dari pengajaran "guru" akan berdampak kepada eksistensi manusia yang pebisnis tersebut. Ini adalah tahap yang sangat menentukan bagi manusia pebisnis. Jika "diri" yang menjadi gurunya ternyata cenderung kepada kejahatan, maka manusia pebisnis akan ditunjukkan bagaimana caranya (dengan kecenderungan jahat) agar suskses di dunia bisnis.

Pada tingkat awal (kodratiah), maka "diri' itu sesungguhnya diciptakan oleh Allah cenderung berbuat jahat. "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Yusuf: 53).

Status "guru," pada tahap awal belum menjamin lahirnya "sukses" dapat lepas dari kesalahan dan perbuatan jahat. Inilah yang patut untuk direnungkan. Maka, kecenderungan berbuat jahat itu tidak dapat dibiarkan, selain harus bersegera memohon kepada Allah akan ampunan-Nya. "Sukses," tetapi tidak diridai Allah sama sekali tidak berdampak positif pada keberadaan dirinya sebagai hamba Allah. Cobalah simak tulisan ini; Indahnya Berbisnis karena Allah.

2. Kualitas Diri Pelaku Bisnis Disebabkan Bagaimana Jiwa (Hati) Ruhaniahnya

Kecenderungan diri selalu berbuat jahat sangat jelas merupakan keniscayaan, sebagaimana tersebut pada ayat 53 surat Yusuf di atas. Maka, keterangan yang telah diturunkan oleh Allah itu sudah sepatutnya mendapat perhatian setiap manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya saw. Jika, masing-masing jiwa tidak diperhatikan oleh akal pikiran manusia beriman itu sendiri, maka akan merugilah hidupnya.

Karena itu, sukses tahap pertama yang diperbuat oleh setiap individu dalam dunia bisnis, belum dapat disebut sukses secara menyeluruh. Baru sampai pada tahap diri yang belum dirahmati. Untuk meraih diri yang diberi rahmat oleh Allah, maka diri setiap insan suka tidak suka harus berbuat mengikuti petunjuk dari Allah yang telah diperbuat oleh Rasul-Nya saw.

Apa saja yang telah diperbuat oleh Rasulullah saw tidak berlepas dari Al-Quran. Allah swt telah mengutus beliau untuk menjadi suri tauladan bagi rahmat semesta alam. Beliau saw senantiasa mengikuti wahyu dan petunjuk Allah yang datang ke dalam hatinya atau jiwanya.

3. Pebisnis online sukses tidak hanya oleh dirinya, melainkan adanya keterlibatan dari orang lain di luar dirinya  

Jika telah berada dalam kesadaran, bahwa kualitas diri sangat menentukan keberadaannya di dunia ini, maka tahap selanjutnya adalah melakukan hubungan yang baik dengan sesama manusia. Kehadiran orang lain di luar diri kita sangat dibutuhkan. Hubungan antar manusia (human relation) merupakan bagian dari hidup dan kehidupan itu sendiri.

Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat menghindar untuk saling kenal mengenal. Diciptakan oleh Allah bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal. Allah sw telah berirman:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujuraat: 13).

Tetapi, kata Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa.

Adakah setiap jiwa pebisnis berjuang untuk menjadi orang yang paling bertakwa? Pertanyaan ini, tentu saja, merupakan tantangan, sekaligus, perjuangan yang tidak dapat disisihkan dari kehidupan orang-orang beriman.

Perhatian terhadap diri untuk lebih mengenal Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta tidak dapat diabaikan karena berbagai urusan yang melibatkan banyak kalangan. Dalam hal ini, hubungan antar manusia harus dijalankan, sedangkan rasa keberimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya saw harus ditempatkan lebih utama dari hubungan dengan apa dan siapa pun.

 4. Anda sukses karena Allah berkehendak Anda Sukses

Akhirnya, sukses bisnis Anda sangat ditentukan oleh Allah sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ini menunjukkan, bahwa manusia pebisnis sesungguhnya hanya memainkan peran hidupnya sebagai hamba Allah tidak dapat berlepas dari kodrat dan iradat Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Baik.

Berbisnis sesungguhnya bukan tujuan dari hidup dan kehidupan seorang hamba Allah, melainkan Allah-lah yang menjadi tujuannya. Jika bisnis diletakkan sebagai tujuan dari hidup kehidupan umat manusia, maka setiap langkahnya hanya diliputi oleh kepentingan dunia.

Bisnis sesungguhnya hanyalah wasilah yang tidak dapat mengabaikan tujuan utama seorang hamba dalam beribadah kepada Tuhannya azza wa jalla. Allah-lah yang menjadi tumpuan dan tujuan hidupnya, bukan selain dari Diri-Nya.

Adakah Kejujuran Itu?

thumbnail
Adakah Kejujuran Itu?
Istilah ini seperti tiada penting untuk dibicarakan, tetapi kata sifat tersebut justru yang paling utama di dunia bisnis online, juga di berbagai lingkungan kehidupan. Perbuatan tidak jujur, sebaliknya, sangat terasa di pihak orang yang menjadi korbannya. Kebohongan, kepalsuan, alias tipu menipu banyak terjadi di setiap lingkungan hidup dan kehidupan umat manusia.

Adalah sifat dasar manusia berbuat selalu menyukai untuk tidak jujur ketika sedang 'kepepet.' Bertahan untuk tidak dipermalukan, maka lebih memilih tidak jujur sekalipun diakui oleh hatinya salah. Rasa bersalah selalu ada, tetapi berjuang untuk tidak mengulangi belum tampak dilakukan. Itulah jahatnya hawa nafsu ketika diperhadapkan untuk pembelaan diri atas tindakannya yang selalu cenderung jahat. 

Allah swt berfirman: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Yusuf: 53).

Jadi, sudah sangat jelas, bahwa pada diri manusia itu sudah ada bawaan buruk atau jahat. Akan tetapi, ini adalah kekecualiaan, pada diri yang dirahmati Allah, keburukan atau kejahatan itu tidak terjadi karena Allah selalu menjaga dari berbagai perbuatn buruk dan jahat yang menelikungnya.

Alhasil, siapa pun Anda jika malas bermohon ampunan kepada Allah, maka tak ada satu pun jaminan untuk Anda diselamatkan dari siksa yang sangat pedih. Kebohongan atau ketidakjujuran akan pertama-tama sangat dirasakan oleh hatinya sendiri. Lahir kegelisahan dan rasa penyesalan sesaat. Ketidakkuasaan manusia melawan kejahatan setan yang menggoda sangat memberikan kemudahan menyeret dirinya ke dalam lingkaran keburukan dan kejahatan.  

Karena itu, jika tiada kewaspadaan pada diri kita dari setiap ucapan dan perbuatan manusia jahat, tentu saja, kta akan sering menjadi korban ketidakjujuran. Apalagi jika Anda tidak jujur, naudzu billahi min dzalik, maka rasa hormat orang kepada Anda akan menurun drastis. Anda tidak lagi dipandang sebagai orang yang selama ini dikenal baik, padahal Anda orang yang pandai menutupi kebohongan atau ketidakjujuran. Ada kedok yang dipakai pada wajah Anda sedang Anda tidak menyadarinya. Wajah Anda bukan wajah Anda yang sesungguhnya, selain setan yang selalu buruk mengajak pada kejahatan.

Saudaraku, dalam berbisnis di dunia maya, siapa yang tahu jika orang yang mengajak Anda adalah orang yang telah disebut dalam pembicaraan ini. Tentu saja, Anda pasti sangat tidak suka atas perbuatan orang tersebut. Itulah sebabnya, dalam mencari karunia Allah, sepatutnya agar tetap terjaga untuk berlaku jujur. ***  

Berada di Dunia Online

thumbnail
Berada di Dunia OnlineAdakah Anda pernah menyadari bahwa hidup kita saat ini sangat dimanjakan oleh kemudahan ilmu pengetahuan dan teknologi? Semua serba difasilitasi oleh kemajuan peradaban umat manusia. Sangat sulit untuk membandingkan keadaan yang serupa 20 tahun yang lalu. Dahulu sangat sulit dan berat untuk melakukan hubungan antar manusia dalam jarak jauh antar bangsa dan negara, bahkan hanya antar daerah dalam kawasan yang sama. Kini semuanya telah berubah.

Harus bagaimanakah kita saat ini? Disadari atau tidak disadari, apa yang sedang berlangsung saat ini hingga akhir kehidupan kita, sesungguhnya telah dalam rencana besar Allah. Sebagai pelaku kekuasaan Allah, manusia tidak dapat menolak atas segala kehendak-Nya. Dengan kekuasaan-Nya, Allah berhak atas seluruh makhluk-Nya mengikuti rencana-Nya. Dia (Allah) adalah Rajanya manusia. Kita tidak dapat menolak dan membantah atas apa yang menjadi kehendak-Nya, selain melakukan pembangkangan atas kehendak-Nya berarti telah mempersiapkan diri menghadapi pembalasan hukuman-Nya.

Anda, saya dan siapa pun adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk berbakti (menghambakan diri) kepada-Nya. Tujuan hidup manusia harus sejalan dengan kehendak Allah, tidak berseberangan dengan kekuasaan-Nya. Menjalani hidup di era informasi dan teknologi tidaklah berarti manusia telah diberi kebebasan semau-maunya, melainkan dengan penganugerahan akal pikiran, Allah sangat menghendaki kta harus dapat memahami apa yang sesungguhnya Allah kehendaki. 

Adakah dunia online yang sangat memberikan kemudahan dalam komunikasi antar lintas budaya, sosial, ekonomi, politik, hukum, kesehatan dan pendidikan sangat memberikan kontribusi yang berarti bagi hidup dan kehidupan umat manusia yang hadir saat ini? Tentu saja 'ya' jawabannya. Anda tidak dapat menghindar dari kemajuan zaman. Maka, suka tidak suka, bagi Anda yang sangat membutuhkan kondisi hidup dan kehidupan yang serba praktis, berada di dalam dunia yang sangat cepat terhubungkan (online) melalui IT, akhirnya tidak dapat menghindarinya.

Hidup di dunia online sungguh-sungguh telah membuka mata hati orang-orang beriman akan kehebatan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta. Kekuasaan Allah atas semua yang diciptakan-Nya, tanpa kecuali manusia dengan hasil karya nyatanya, .benar-benar menjadikan para pembangkang kebenaran  akan dapat merasakan sekaligus menyaksikan  suatu kenyataan hidup di dalam kekuasaan Allah. ***

Info Bisnis: Kunjungan yang Saling Menguntungkan

thumbnail
Info Bisnis: Kunjungan yang Saling Menguntungkan
Berkunjung, dalam bahasa agama, adalah silaturahim. Islam sangat menganjurkan untuk bersilaturahim antar sesama manusia. Ada banyak keuntungan yang diperoleh dari saling berkunjung itu. Dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usia. Akal yang tercerahkan takkan membiarkan suasana hidup dan kehidupan diliputi oleh kegelisahan lantaran tak ada orang yang mendekati kita. Tak ada orang yang sudi berhubungan dengan kita.

Adakah bahwa orang hebat tak patut bersilaturahim? Tidak. Siapa pun orang itu, dengan kedudukan dan latar belakang ekonomi, pendidikan dan sebagainya, tak ada ketentuan untuk menjauhi silaturahim. Persoalan yang dianggap tidak patut adalah jika kunjungan tersebut diselipkan niat jahat. Bersilaturahim, secara fitrah, merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat terhindar untuk saling berbagi keberuntungan, bukan kerugian.

Istilah keberuntungan jangan dimaknai dengan sifat yang ditujukan hanya untuk kepentingan pemenuhan materi semata, melainkan juga kebutuhan atas ketenangan jiwa.  Anda pasti akan mudah sakit, fisik maupun batin, jika tak ada seorang pun yang menjumpai Anda karena orang lain berupaya menjaga jarak dengan Anda. Jika Anda tidak mampu menghadapi kondisi sosial yang demikian, maka jangan jauhkan diri Anda dengan Allah. Bermohonlah kepada Allah agar dapat menjadi insan yang memiliki nilai kemanfaatan atas kehadirannya di muka bumi. Hubungan antar manusia (human relation) benar-benar sangat berarti bagi hidup dan kehidupan Anda.

Saudaraku, makna silaturahim menjangkau secara meluas di era ilmu pengetahuan dan tekonologi ini. Melalui IT (information technology) atau saat ini lebih dimaknai secara praktis via internet, maka hubungan antar manusia semakin tidak dapat terhindar. Secara online, bahkan Anda pun dengan mudah berbagi info bisnis. Kunjungan yang dilakukan atas dasar saling membutuhkan pastinya akan lebih mudah berjalan dibandingkan tidak ada kesamaan kebutuhan. 

Bagi para blogger atau pemilik website, kunjungan satu sama lain untuk saling berbagi informasi dan, tentu saja, adanya keberuntungan yang bakal didapatkan, sangat dianjurkan. Hanya saja, yang patut untuk direnungkan, bahwa silaturahim itu bukan hanya untuk kepentingan diri semata-mata, melainkan bernilai sosial. 

Bagi para pemakai situs social media, yang cenderung suka berbagi status, juga tentu saja sangat membutuhkan perlunya perhatian orang lain (sesama pemakai situs sosial). Jangan hanya Anda saja yang merasa perlu, karena sebuah pertemanan, tentu berkonsekuensi saling membutuhkan. Permasalah Anda suka atau tidak suka, pastinya karena Anda memiliki penilaian pribadi. Jika Anda menilai kepribadian seseorang, janganlah dilandaskan pada kebencian atau kedengkian, melainkan karena sebab-sebab yang belum dapat menilai baik atau tidaknya memberikan komentar atau suka tidaknya atas isi (content) artikel (posting) teman Anda.

Semoga, artikel ini dapat membrikan nilai kemanfaatan para blogger atau pemilik website, juga para pemanfaat jaringan media sosial yang ada saat ini. Saya sangat mempersilakan Anda dapat mengunjungi blog saya yang lain atau Anda dapat mampir ke situs sosial (facebook atau twitter). Agama, Hati dan Ilahi (blog), Grup Agama, Hati dan Ilahi (facebook), Madjelis Dzikir Tawashow (halaman facebook) dan @ahmady (twitter). 

Catatan Admin

Kesejahteraan menduduki paling banyak dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia di dunia. Program Pembangunan semestinya mencakup banyak aspek yang mengutamakan kepada kepentingan masyarakat. Salah satu indikasi kemiskinan adalah tiadanya perbaikan kesejahteraan. Blog ini disuguhkan sebagai bentuk partisipasi dalam mencari solusi menambah kesejahteraan. Anda, saya, siapa pun merupakan objek pembangunan yang sedang mengalami suatu proses ke arah perbaikan kesejahteraan. Saya berharap Anda mau berbagi kepentingan demi tercukupi adanya pemenuhan ekonomi masyarakat. Saya mengajak Anda membangunlah pemikiran progresif demi kemajuan peradaban yang mendasarkan kepada ketentuan-ketentuan Ilahi.